Belakangan ingin banyak sekali polemik yang melanda negeri kita, diantaranya tentang pilkada yang mengangkat isu agama, isu sara, bahkan parahnya
ada gerakan yang ingin mengganti Ideologi Pancasila.
Bagaimana tidak pusing Pemimpin kita, selalu di perhadapkan pada masalah yang bertentangan dengan Pancasila, di tambah lagi masyarakat kita yang masih manja terhadap pemerintah, masih manja akan jabatan, masih manja akan kedudukan. Padahal pada artikel sebelumnya sudah saya jelaskan bahwa cinta dunia itu tak ada gunanya, semua hanya titipan, dan setiap titipan itu sifatnya sementara.
ada gerakan yang ingin mengganti Ideologi Pancasila.
Bagaimana tidak pusing Pemimpin kita, selalu di perhadapkan pada masalah yang bertentangan dengan Pancasila, di tambah lagi masyarakat kita yang masih manja terhadap pemerintah, masih manja akan jabatan, masih manja akan kedudukan. Padahal pada artikel sebelumnya sudah saya jelaskan bahwa cinta dunia itu tak ada gunanya, semua hanya titipan, dan setiap titipan itu sifatnya sementara.
Mengenai ideologi Pancasila yang ingin di ganti, itu terlalu prakmatis atau mungkin bahasanya terlalu memudahkan sesuatu, seakan-akan ideologi itu adalah sesuatu yang sifatnya seperti pakaian yang bisa di ganti-ganti. Ideologi itu isi dari sebuah negara, untuk menghilangkan isinya, harus dulu mengenal kulitnya, mengenal sejarahnya, mengenal apa tujuannya, jika kulitnya saja belum di pahami, sudah pasti isinya juga tak akan di kenali.
Berbicara tentang isi, isi itu hakikat, bisa di katakan esensi, subtansi, atau bahasa sederhanya adalah inti dari sebuah negara. Jika Indonesia hakikatnya adalah Pancasila, maka dari itu jika pancasila di hilangkan secara otomatis Indonesia pun akan hilang. Jika Indonesia hilang, maka hilanglah suatu negara, jika negara hilang maka hilang pula pemimpinya. Jika anda adalah pemimpinnya, anda pasti akan bertindak dan tak akan membiarkan hal ini terjadi. Maka wajar jika bapak Presiden cepat dalam mengambil sikap, karena ini masalah keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
Sekarang, alangkah baiknya jika kita memikirkan diri kita sendiri saja dulu untuk menjadi lebih baik, baru melangkah untuk memikirkan sebuah negara. Karena, jika diri kita saja belum baik, jangan berharap untuk memperbaiki suatu bangsa.
Nah, sekarang pertanyaannya, Sudahkah kita berbuat untuk Tanaih air kita sendiri? sementara kita lahir di tanah ini, besar di tanah ini, makan di tanah ini, minum di tanah ini, bekerja dan berpenghasilan di tanah ini, menikah di tanah ini, bahkan memiliki keturunan di tanah ini. Terus, masihkah kita menuntut yang lebih untuk negeri ini? itu artinya rakyat yang tak tau diri dan berani mengganti ideologi Pancasila, "sungguh terlalu".😊
Seorang Pemimpin yang baik itu yang memikirkan kepentingan rakyat, dan seorang rakyat yang baik itu yang patuh dan taat pada pemimpinnya. kalo kita perhatikan sekarang di Indonesia, masih banyak yang selalu menjelekkan atau berfikir negatif tentang pemimpinnya, itu berarti rakyat yang belum mengerti dan menyadari bahwa dirinya adalah rakyat, dan seorang rakyat yang baik yah yang patuh dan taat pada pemimpinnya. Maka dari itu alangkah baiknya jika kita memperbaiki sebuah negara berawal dari diri kita sendiri dulu, setelah itu keluarga, lingkungan, daerah, lalu suatu negara, kalo perlu dunia ini kita perbaiki. Konsep Nabi kan begitu, mulai dari dirinya sendiri, lalu ummatnya sampai memimpin alam semesta hingga akhir zaman. Maka itulah sebaik-baik Manusia.
Ayolah, sekarang marilah kita memperbaiki diri kita sendiri, mencintai diri kita sendiri karena dengan mencintai diri kita sendiri itu mengantarkan kita pada sebuah kebaikan. Setelah kita cinta pada diri kita, melangkahlah untuk mencintai yang ada di luar dari diri kita termasuk Tanah Air Indonesia.
Terimakasih dan "salam cinta".
Komentar
Posting Komentar